…beberapa rintik hujan mulai turun membasahi kaca bus kota yang sedari tadi membawaku menuju sebuah daerah di pusat Jakarta, “kalau mendungnya bgini ngga bakal deres kyknya..”, pikirku sambil melihat awan tidak begitu kelabu…
……………….
“abang pulang dulu ya din”, namun dina masih tetap diam, wajahnya yang pucat membuatku semakin tak tega meninggalkannya sendiri. Semenjak Mada masuk jeruji besi kehidupan Dina mungkin bisa kubilang berubah drastis, Dina yang dulu kukagumi karena supelnya kini tak lagi rajin bercerita, bahkan tersenyum pun rasanya terlihat berat sekali, keseharianya hanya dihabiskan dengan terdiam melamun, dan kini ia harus terbaring di rumah sakit ketika kondisi kesehatannya semakin menurun akibat penyakit radang lambung yang dideritanya karena sering telat bahkan tidak makan seharian. masih teringat jelas dibenakku Dina yang dulu begitu riangnya, membawakanku racauan-racauan lucunya yang sering membuatku tersenyum sendiri ketika mengingatnya, yang membuat hidupku damai karena tenangnya, dan yang membuatku kuat karena smangatnya…
Terdengar pintu kamar terbuka menghentikan memoriku tentangnya, seorang suster masuk membawa beberapa botol infus sambil mengingatkanku bahwa jam besuk sudah habis, “iya suster..” jawabku. Beberapa saat sebelum keluar dari pintu kamar aku pun masih sempat melihat wajah Dina yang tak bergeming sedikitpun, seakan tak pernah menyadari hadirku disana.
……
..
Masih teringat kisahku dulu dengannya..perjodohan itu, dan semua harapan yang pernah tertanam, ketika akhirnya akupun menerima sgala yang terbaik bagiku dan baginya, dimana sedikit lagi kan kuucapkan ikrar tuk bersama hingga kapanpun nanti, namun kini semua itu menghilang terselimuti sebuah tanda tanya besar,
“kenapa harus Dina?”
…perlahan seuntai tangan lembut menggamit lenganku dan menyandarkan kepalanya dipundakku,
seorang wanita yang takkan pernah pergi dari kehidupanku..
seorang wanita yang kan sejukkan hatiku sebening embun pagi yang menetes diantara dedaunan..
seorang wanita yang kan hangatkanku dikala rembulan hembuskan malam dinginnya untukku..
bukan Dina, namun wanita istimewa yang takkan mampu kutuliskan dalam ceritaku..
…..
bus kota pun terus melaju tanpa henti dibawah derasnya guyuran air hujan, dan aku segera bersiap tatkala kernet bus kota bernomor 44 mengingatkanku dengan teriakannya “siap-siap yang karet*)!!”
[END]
————————————
*)karet: TPU di Jakarta Pusat
Dikembangkan dari mimpi seorang ibu.
Jika ada kesamaan nama, tokoh dan tempat, itu hanya kreatvitas penulis belaka.


Hiks.. hiks.. hiks..
btw
Siapa tuh rie?
By: dnial on April 11, 2007
at 3:55 pm
mantab….oyeh banget nih…
aku sampai ga bisa ngasih komentar apapun…
bisa aja dirimu memenggal2 cerita ini, sehingga tiap chapternya punya jiwa yang berbeda2
ditunggu cerita berikutnya..
By: kakilangit on April 11, 2007
at 4:07 pm
@daniel : tunggu aja rilis resminya, hutan yg mana rie?
By: venddd on April 11, 2007
at 4:15 pm
kekekekekek
By: dr on April 11, 2007
at 7:34 pm
rie, mang dia tinggal di kuburan ya?
By: kakilangit on April 12, 2007
at 6:58 am
beautifully deep…
hmmm…
kamu napa ga bikin buku yang kayak kapan itu kamu tunjukin ke aku? tar aku beli de… lumayan buat ganti java bible… huehehehe…
By: NeeN on April 12, 2007
at 10:19 am
bikin buku,,, hehehehehe,,
By: Rizma Adlia on April 15, 2007
at 1:36 am
#dnial : yang itu tuh.. ;;)
#kakilangit: enggak, yg tinggal dikuburan itu kernetnya -?!-
#NeeN: ho’oh..pinginnya gitu, tapi tulisanku blm banyak…
#Rizma Adlia: kira-kira dikasih judul apa ya yg menarik? :p
By: riantoutomo on April 15, 2007
at 1:45 am
Keren
Eh tapi masih bisa dikembangin lho cerpennya
By: Yaya on April 16, 2007
at 2:55 am
Ntar kalo mau aku kasih kontak ke GPU (Gramedia Pustaka Utama) rie
By: Hendrawan on April 17, 2007
at 6:21 am
#hendrawan: iya, nanti kalo udah nulis banyak trus disortir dulu yang the best,
baru brani buat dimasukin ke gramedia..:D
#all: btw makasih supportnya
By: rianto on April 17, 2007
at 8:14 am
Ayo gabungan….
By: dnial on April 19, 2007
at 1:52 am