would you? (part 3 – end)

…beberapa rintik hujan mulai turun membasahi kaca bus kota yang sedari tadi membawaku menuju sebuah daerah di pusat Jakarta, “kalau mendungnya bgini ngga bakal deres kyknya..”, pikirku sambil melihat awan tidak begitu kelabu…
……………….
“abang pulang dulu ya din”, namun dina masih tetap diam, wajahnya yang pucat membuatku semakin tak tega meninggalkannya sendiri. Semenjak Mada masuk jeruji besi kehidupan Dina mungkin bisa kubilang berubah drastis, Dina yang dulu kukagumi karena supelnya kini tak lagi rajin bercerita, bahkan tersenyum pun rasanya terlihat berat sekali, keseharianya hanya dihabiskan dengan terdiam melamun, dan kini ia harus terbaring di rumah sakit ketika kondisi kesehatannya semakin menurun akibat penyakit radang lambung yang dideritanya karena sering telat bahkan tidak makan seharian. masih teringat jelas dibenakku Dina yang dulu begitu riangnya, membawakanku racauan-racauan lucunya yang sering membuatku tersenyum sendiri ketika mengingatnya, yang membuat hidupku damai karena tenangnya, dan yang membuatku kuat karena smangatnya…
Terdengar pintu kamar terbuka menghentikan memoriku tentangnya, seorang suster masuk membawa beberapa botol infus sambil mengingatkanku bahwa jam besuk sudah habis, “iya suster..” jawabku. Beberapa saat sebelum keluar dari pintu kamar aku pun masih sempat melihat wajah Dina yang tak bergeming sedikitpun, seakan tak pernah menyadari hadirku disana.
……
..
Masih teringat kisahku dulu dengannya..perjodohan itu, dan semua harapan yang pernah tertanam, ketika akhirnya akupun menerima sgala yang terbaik bagiku dan baginya, dimana sedikit lagi kan kuucapkan ikrar tuk bersama hingga kapanpun nanti, namun kini semua itu menghilang terselimuti sebuah tanda tanya besar,
“kenapa harus Dina?”
…perlahan seuntai tangan lembut menggamit lenganku dan menyandarkan kepalanya dipundakku,
seorang wanita yang takkan pernah pergi dari kehidupanku..
seorang wanita yang kan sejukkan hatiku sebening embun pagi yang menetes diantara dedaunan..
seorang wanita yang kan hangatkanku dikala rembulan hembuskan malam dinginnya untukku..
bukan Dina, namun wanita istimewa yang takkan mampu kutuliskan dalam ceritaku..
…..
bus kota pun terus melaju tanpa henti dibawah derasnya guyuran air hujan, dan aku segera bersiap tatkala kernet bus kota bernomor 44 mengingatkanku dengan teriakannya “siap-siap yang karet*)!!”

[END]

————————————
*)karet: TPU di Jakarta Pusat

Dikembangkan dari mimpi seorang ibu.
Jika ada kesamaan nama, tokoh dan tempat, itu hanya kreatvitas penulis belaka.

Advertisements

12 responses to this post.

  1. Hiks.. hiks.. hiks..

    btw

    perlahan seuntai tangan lembut menggamit lenganku dan menyandarkan kepalanya dipundakku,
    seorang wanita yang takkan pernah pergi dari kehidupanku..
    seorang wanita yang kan sejukkan hatiku sebening embun pagi yang menetes diantara dedaunan..
    seorang wanita yang kan hangatkanku dikala rembulan hembuskan malam dinginnya untukku..
    bukan Dina, namun wanita istimewa yang takkan mampu kutuliskan dalam ceritaku..

    Siapa tuh rie?

    Reply

  2. mantab….oyeh banget nih…
    aku sampai ga bisa ngasih komentar apapun…
    bisa aja dirimu memenggal2 cerita ini, sehingga tiap chapternya punya jiwa yang berbeda2

    ditunggu cerita berikutnya..

    Reply

  3. @daniel : tunggu aja rilis resminya, hutan yg mana rie? 😛

    Reply

  4. kekekekekek

    Reply

  5. rie, mang dia tinggal di kuburan ya?

    Reply

  6. beautifully deep…
    hmmm…
    kamu napa ga bikin buku yang kayak kapan itu kamu tunjukin ke aku? tar aku beli de… lumayan buat ganti java bible… huehehehe… 😀

    Reply

  7. bikin buku,,, hehehehehe,,

    Reply

  8. #dnial : yang itu tuh.. ;;)

    #kakilangit: enggak, yg tinggal dikuburan itu kernetnya -?!-

    #NeeN: ho’oh..pinginnya gitu, tapi tulisanku blm banyak… 🙂

    #Rizma Adlia: kira-kira dikasih judul apa ya yg menarik? :p

    Reply

  9. Keren 🙂

    Eh tapi masih bisa dikembangin lho cerpennya 🙂

    Reply

  10. Ntar kalo mau aku kasih kontak ke GPU (Gramedia Pustaka Utama) rie 🙂

    Reply

  11. #hendrawan: iya, nanti kalo udah nulis banyak trus disortir dulu yang the best,
    baru brani buat dimasukin ke gramedia..:D

    #all: btw makasih supportnya 🙂

    Reply

  12. Ayo gabungan….

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: