Archive for the ‘kisah fana..’ Category

last.

..”BUZZ” gaimku berkedip, sebuah nama muncul disana..
“rani”, senyumku mengembang didalam hati,
entah sudah berapa lama kita saling mengenal..bahkan kalaupun dipikir, aku sudah lupa kapan pertama kali aku berkenalan dengannya
semua tiba-tiba begitu saja terjadi, tanpa awal..
“haluw ge!..”, sapanya yg renyah langsung terbayang didepan mataku..siapa yang kira, ketika semua orang memandangnya sebagai cewek biasa, namun aku..wage, mampu menangkap segala keindahan yang terpancar dalam dirinya..
Continue reading

Advertisements

deuhh..si dede’ kemana ya?

Disclaimer: Postingan ini mengandung Image keren yg berbahaya buat koneksi internet volume-based

“lima rebu bu..”, jawab seorang pedagang sayuran..
“waduhh..kok mahal? biasanya juga empat ribu..”, jawab si ibu ngga mau kalah..
“yasudah, ambil berapa kilo?, akhirnya pedagang itu mengibarkan bendera putih..
lalu aku pun terhembus pergi ditiup angin pagi yang menyejukkan.
Mungkin sudah tak terhitung lagi banyaknya, aku selalu datang ke tempat ini..ikut menggoreskan warna pada keadaan yang selalu membuatku rindu akan keramaian dan keramahan, tidak seperti di kota sana..orang lebih senang berbelanja tanpa bicara, tanpa ada tawa ataupun senda gurau antara penjual dan pembeli, bahkan tanpa adanya tawar-menawar.

“dede’ turun dulu ya..ibu mau nawar bayam sebentar”, kata seorang ibu kepada anaknya yang sejak tadi digendongnya.
“dede’ pegangan ibu sini..”, ibunya berkata lagi untuk menyuruh si dede’ berpegangan pada lengan baju si ibu.
selang beberapa menit, belanjaan si ibu semakin banyak..mulai dari ayam potong, sayur bayam, beberapa wortel, dan bumbu masak lainnya.
Namun, si ibu tiba-tiba tersentak kaget..ketika baru menyadari bahwa barang belanjaannya si dede’ tidak ada didekatnya,,
Si dede’ kemana?

Oh My God..

“buruan Bim, ga usah pake dandan…ntar bisa2 satu jam lagi baru berangkat!, inget ya..ntar kita ketemuan di depan pintu masuk Galaxy yang sebelahnya brea*t*lk”, terdengar suara Nuno di seberang speaker handphone..
“iya2 No, ini bentar lagi mau brangkat..bawel amat seh!”, jawab Bimo ketus.

..sudah sekitar beberapa menit Bimo memandangi cermin seukuran badannya yang boleh dibilang hampir proporsional, “ah..badan keren gini kok dibilang gendut sama si Eneng?, dasar si Eneng payah..”,
Continue reading

salah ya?

“fiuh….”, untuk kesekian kalinya danu menghembuskan nafas jenuhnya…
entah mengapa semua orang seakan memandang aneh kepada danu, seakan-akan baru bertemu manusia dari luar angkasa yang seharusnya tidak berada didekat mereka, memang ada juga beberapa orang yang berbaik hati mengajaknya bicara, namun tetap saja danu merasakan aura tak ikhlas disana, entahlah..
“apa ya yang salah?”, pertanyaan itu tersirat lagi..
Memang secaraa sadar danu merasa bahwa dirinya bukan orang yang cukup peka dan mampu untuk mengerti setiap dinamika yang terjadi disekitarnya, meskipun ia termasuk orang yang melankolis..bukan berarti dia selalu mengerti apa saja yang dipikirkan orang lain terhadap dirinya.
“apa gara-gara itu?, apa karena ini? Apa memang bgitu?”, segala pertanyaan dilontarkan pada dirinya sendiri, danu terus mecoba menemukan beberapa sebab utama yang dirunutkannya berdasarkan sekuen waktu dan hubungannya dengan kehidupan sosial disekitarnya saat ini.
….
“apa iya karena itu? Ketika aku datang padanya disaat yang tidak tepat..”, danu akhirnya sedikit demi sedikit bisa meruncingkan segala alasan-alasan yang ia temukan dalam benaknya sendiri, sampai pada akhirnya memuncak menjadi sebuah pertanyaan sederhana

“apa salah ketika perasaan itu datang padaku dan itu ditujukan padanya?”,

sebuah pertanyaan yang danu pun tak sanggup menjawabnya, karena sepenuhnya sadar bahwa ia datang terlambat dan tak bisa berharap banyak. Danu yang kini memendam perasaan itu, hanya bisa mencoba hadapi kenyataan bahwa dirinya cuma bisa menunggu..hingga saatnya nanti,

ketika hati sudah memilih.

would you? (part 3 – end)

…beberapa rintik hujan mulai turun membasahi kaca bus kota yang sedari tadi membawaku menuju sebuah daerah di pusat Jakarta, “kalau mendungnya bgini ngga bakal deres kyknya..”, pikirku sambil melihat awan tidak begitu kelabu…
……………….
“abang pulang dulu ya din”, namun dina masih tetap diam, wajahnya yang pucat membuatku semakin tak tega meninggalkannya sendiri. Semenjak Mada masuk jeruji besi kehidupan Dina mungkin bisa kubilang berubah drastis, Dina yang dulu kukagumi karena supelnya kini tak lagi rajin bercerita, bahkan tersenyum pun rasanya terlihat berat sekali, keseharianya hanya dihabiskan dengan terdiam melamun, dan kini ia harus terbaring di rumah sakit ketika kondisi kesehatannya semakin menurun akibat penyakit radang lambung yang dideritanya karena sering telat bahkan tidak makan seharian. masih teringat jelas dibenakku Dina yang dulu begitu riangnya, membawakanku racauan-racauan lucunya yang sering membuatku tersenyum sendiri ketika mengingatnya, yang membuat hidupku damai karena tenangnya, dan yang membuatku kuat karena smangatnya…
Terdengar pintu kamar terbuka menghentikan memoriku tentangnya, seorang suster masuk membawa beberapa botol infus sambil mengingatkanku bahwa jam besuk sudah habis, “iya suster..” jawabku. Beberapa saat sebelum keluar dari pintu kamar aku pun masih sempat melihat wajah Dina yang tak bergeming sedikitpun, seakan tak pernah menyadari hadirku disana.
……
..
Masih teringat kisahku dulu dengannya..perjodohan itu, dan semua harapan yang pernah tertanam, ketika akhirnya akupun menerima sgala yang terbaik bagiku dan baginya, dimana sedikit lagi kan kuucapkan ikrar tuk bersama hingga kapanpun nanti, namun kini semua itu menghilang terselimuti sebuah tanda tanya besar,
“kenapa harus Dina?”
…perlahan seuntai tangan lembut menggamit lenganku dan menyandarkan kepalanya dipundakku,
seorang wanita yang takkan pernah pergi dari kehidupanku..
seorang wanita yang kan sejukkan hatiku sebening embun pagi yang menetes diantara dedaunan..
seorang wanita yang kan hangatkanku dikala rembulan hembuskan malam dinginnya untukku..
bukan Dina, namun wanita istimewa yang takkan mampu kutuliskan dalam ceritaku..
…..
bus kota pun terus melaju tanpa henti dibawah derasnya guyuran air hujan, dan aku segera bersiap tatkala kernet bus kota bernomor 44 mengingatkanku dengan teriakannya “siap-siap yang karet*)!!”

[END]

————————————
*)karet: TPU di Jakarta Pusat

Dikembangkan dari mimpi seorang ibu.
Jika ada kesamaan nama, tokoh dan tempat, itu hanya kreatvitas penulis belaka.

would you? (part 2)

…ya mungkin memang sudah sewajarnya ia terlihat dewasa, karena umurnya setahun lebih tua dari umurku..
akupun baru sadar apa yang membuat bapak menanyakan pendapatku tentang apabila pada suatu saat nanti aku mempunyai seorang pasangan yang umurnya lebih tua dariku, saat itu aku juga bingung, kok tumben bapak menanyakan hal-hal seperti ini padaku, padahal setahuku bapak sangat tidak menyarankanku untuk hal yang satu itu, aku pun menjawab “ya tergantung orangnya juga pak, mau lebih tua atau lebih muda asalkan dia bisa menghargai dan dewasa menyikapi perbedaan itu ya ngga jadi masalah”, bapak pun tersenyum kecil. kemudian sekarang aku pun dihadapkan pada pilihan itu, pilihan yang pada awalnya aku anggap biasa ternyata tidak semudah bayanganku, rasanya sulit sekali mengatakan “aku belum bisa pak..”,
beberapa minggu berlalu dan aku pun semakin mengenal Dina lebih jauh, dan ternyata bukan hanya aku saja yang keberatan mengenai masalah ini, namun ia juga begitu dan bahkan bebannya lebih berat ketimbang bebanku karena ia sudah lebih dulu mengenal mada, yaitu laki-laki yang sudah menjalin hubungan dengannya selama kurang lebih 5 tahun, sebuah waktu yang cukup lama dan sangat disayangkan apabila harus terhenti dengan 1 alasan.
…..
..
“kmu ngga apa-apa kan na?” tanyaku sambil menyodorkan tissue ketika kulihat lelehan air matanya turun begitu cepat,
“kenapa mesti gini ya bang?, kenapa mas Mada ngga pernah terus terang ke dina?, kenapa mas Mada bisa setega itu ke dina?, rentetan pertanyaan itu tak sanggup kujawab, “yang sabar ya na, coba diambil hikmahnya saja”, kataku pelan.
Terkadang kenyataan itu memang pahit, namun kalaupun itu bisa memberi kita pelajaran yang terbaik kenapa tidak?
(tepat 1 hari setelah mada divonis 15 tahun atas kasus peredaran ganja dan shabu-shabu)
…..
..
(to be cont’d)

would you?

kupercepat langkahku ketika melewati halaman parkir kampusku, gerimis pun mulai turun meski pagi tadi cuaca begitu cerah
“selamat siang mas rian!” seorang maba menyapaku pagi itu, “eh, iya..” sambil tersenyum aku segera berlalu. sebenarnya hari ini seharusnya tidak menjadi hari yang begitu penting kalau saja tepat seminggu yang lalu tidak terjadi sesuatu hal yang berpengaruh besar dalam kehidupanku. cerita ini mungkin sama seperti dongeng siti nurbaya, namun siapa sangka ternyata dongeng tersebut teralami juga olehku,
Perjodohan. ya, memang hal yang satu ini mungkin terdengar aneh pada masa sekarang karena perjodohan dianggap sebagai cerminan pemaksaan kehendak orangtua terhadap anaknya, banyak orang berfikir bahwa perjodohan tidak akan menumbuhkan sebuah cinta yang utuh, tak sedikit pula yang befikiran bahwa perjodohan tidak akan menghasilkan ikatan pernikahan yang erat.
namun aku tidak ingin berfikir terlalu jauh seperti itu, karena menurutku apapun yang mereka kehendaki pastilah itu yang terbaik dan karena itulah aku juga akan mencoba menjadikan itu yang terbaik, selain itu kalaupun hal ini merupakan salah satu cara yang bisa membahagiakan mereka kenapa tidak? toh selama ini aku belum bisa membalas segala yang mereka berikan kepadaku hingga saat ini.
namanya Dina Pramadani Pamasya, campuran Jawa-Sulawesi, Ayahnya orang Sulawesi, beliau adalah teman bapak waktu dinas di Paiton dan Ibunya orang Jawa lebih tepatnya orang Solo.
Kulitnya kuning langsat, rambutnya ikal, tingginya kira-kira sepundakku, orangnya supel, kalem, ramah, murah senyum, dan sederhana, sangat cocok sekali dengan kriteriaku.
aku bertemu dengannya baru dua kali, pertama saat aku diajak bapak ke acara Pendidikan Purna Bakti (semacam pendidikan akhir untuk pegawai yang akan memasuki masa pensiun) dan yang kedua saat aku diminta Ayahnya untuk mengantarkan Dina mencari Bahan Kebaya di Pasar tanah Abang, dan sejak itulah aku perlahan mulai mengenalnya lebih jauh, ternyata selain kalem ternyata ia juga termasuk orang yang mandiri dan cukup dewasa..
……
….
( t b cont’d )